• Photo Galery

    • November 2008
      MSSRKJS
            1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      30
  • Archives

  • Content Tag

  • Testimonials

    • saLam keNaL...
  • Blog Roll

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 315 kali
  • Subcribe RSS of this blog
  • 06 Oktober 2008

    Ojek Sepeda Yang Jadi Sumber Nafkah Keluarga

    Ditulis oleh Tombol_f3rr3ll dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

    Ada yang unik dimuka jalan Pluit Karang Timur, Pluit. Di jalan tersebut, berjajar beberapa pengojek sepeda. Di jaman sekarang ini, makin sulit mendeteksi keberadaan para pengojek ini. Kecuali saudara mereka yang juga masih bisa dijumpai dibilangan Sunda Kelapa, dan Kota.

    Kepada iwanfals.co.id, Awang (40), Ayah lima orang putra ini, menceritakan pengalamannya mengojek sepeda. Awalnya mata pencahariannya adalah berdagang. Lantas berdagang jadi semakin sulit baginya, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi pengojek sepeda yang diawalinya tahun 1981.

    Saat senang dirasakannya ketika bisa menabung untuk keluarga di kampung, dengan begitu dia merasakan kepuasan bahwa usahanya ada hasilnya. Sementara, rasa jenuh juga kerap datang. Yang menurutnya ketika sudah seharian mengojek, tidak mendapatkan uang, atau hanya pas-pasan untuk makan.

    Jadi tukang ojek sepeda, yang popularitasnya mulai kalah dengan ojek sepeda motor, mesti banyak bersabar. Terlebih, ketika disinggung pendapatan perharinya yang menurutnya rata-rata pendapatan hariannya, Rp 30.000. Terkadang bisa lebih, namun terkadang malah hanya mendapat Rp 10.000.

    Jauh dari istri dan keluarga sudah jadi pilihannya. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Sementara, anaknya yang paling kecil saat ini duduk di sekolah dasar.

    Kendati jadi tukang ojek sepeda, soal pendidikan, dia tidak mau berkompromi. Kelima anaknya sudah menamatkan sekolahnya sampai SMP. Itu semua dari uang hasil mengojekkan sepeda. ”Selain untuk makan keluarga, hasil mengojek memang saya fokuskan untuk pendidikan anak,” katanya.

    Meski mengakui saat ini semakin sulit mencari penumpang, dia belum punya rencana berhenti mengojek atau alih profesi . ”Nggak tahu sampai kapan saya mengojek, mungkin sampai tidak kuat mengayuh,” katanya.

    Ada sekitar 12 orang pengojek sepeda, di ruas jalan ini. Kelompok ini tidak akan mengijinkan pengojek sepeda motor yang ingin mengojek di lokasi ini. ”Kalau kita kasih ijin sepeda motor ngojek di sini, bisa-bisa kitanya yang nggak dapat duit,” tambahnya.

    Sampai kapanpun, mengojek sepeda tetap akan dilakoninya. Dia mengaku sama sekali tidak tertarik menjadi pengojek sepeda motor, ”Nggak tahu ya, saya kok nggak kepingin jadi pengojek sepeda motor,” katanya. Meski diakuinya, mengojek sepeda terkadang memang melelahkan.

    Namun, dibalik itu menurutnya resiko mengendarai motor cukup besar. Serta biaya yang besar mengendarai motor, ketimbang mengendarai sepeda. Itu salah satunya yang menyebabkan keengganannya beralih profesi.

    Jadi ojek sepeda, menurutnya tidak banyak membutuhkan biaya, terlebih Sepeda menurutnya lebih simple, tidak akan keluar banyak uang dan di jalanan tidak bakalan kena razia.

    Para pengojek sepeda seluruhnya berasal dari sebuah kampung di Tangerang, tepatnya di Desa Gagar Patung, kecamatan Paku Aji. ”Kami ini tetangga dan para saudara sekampung,” katanya lagi.

    Perjalanan bersepeda dari Tangerang ke Pluit, ditempuhnya selama dua jam, jika kembali berkerja sepulang berweekend. Dia biasa berangkat pukul 5 pagi dari rumahnya, dan sampai di wilayah Pluit sekitar pukul 7 pagi.

    Itu mengapa, karena jaraknya yang jauh tersebut, rata-rata para pengojek tidak pulang ke rumah setiap hari. Kebanyakan mereka meninggalkan keluarganya selama empat hari, satu minggu, atau 10 hari. ”Biasanya kalau kita pulang agak cepat, jika dapat cukup rejeki, jika tidak paling banter seminggu sekali pulang,” tambahnya.

    Sehari-harinya, para pengojek berkerja tak kenal waktu. Jika malam larut, mereka akan mencari posisi di sekitar perkantoran. Tidur diemperan-emperan perkantoran, beralaskan tikar atau kardus, ”Sudah biasa kami begitu, demi anak istri di rumah,” katanya.

    Lebih daripada itu, dia mengharapkan bisa menabung dari hasil mengojek sepeda. Terlebih karena dirasakannya selama ini mengojek, hanya cukup untuk makan sendiri.

    Sepinya para pengguna ojek sepeda, sangat terasa saat ini. Awalnya ada sekitar 20 orang pengojek sepeda yang mangkal. Tetapi karena semakin sulit mencari penumpang, saat ini tinggal 12 orang saja. ”Kebanyakan penumpang ojek saat ini sudah banyak yang memiliki motor. Kami jadi sepi order sekarang,” katanya.

    Biasanya tarif yang dikenakan para pengojek tidaklah mahal. Sebagai gambaran, untuk jarak sekitar 1000 meter, para pengojek kerap membandrol ongkos sebesar Rp 3000. Sementara, jika agak jauh dikenai tarif Rp 5000.

    Perebutan lahan, terkadang kerap juga terjadi antara para pengojek sepeda dengan para pengojek motor, meski tidak sampai adu fisik. Biasanya para pengojek motor dilarang mengojek di bilangan jalan Pluit Karang Timur ini.

    Namun, terkadang ada saja pengojek motor yang membandel, biasanya yang baru mulai mengojek. ”Bagi yang membandel biasanya kita menegurnya,” tambah Awang. Jika tetap membandel, kelompoknya akan segera berkoordinasi dengan kelompok ojek sepeda motor di dekat lokasi untuk mengusirnya.

    Dengan para pengojek sepeda motor di sekitar, hubungan kelompok ini memang baik. ”Biasanya mereka malah diomelin sama pengojek motor lainnya, apalagi tak seharusnya motor ’berhadapan’ dengan sepeda,” katanya. dri

    Referensi : http://www.iwanfals.co.id/news/view/id/56


    Ada 1 buah komentar untuk Ojek Sepeda Yang Jadi Sumber Nafkah Keluarga

    1. 07 Oktober 2008

      #1 Sidik K berkomentar :

      Semakin hari harga 9 bahan pokok dll semakin beranjak naik.
      Saya salut terhadap para pengojek sepeda, karena punya tanggung jawab dalam menghidupi keluarganya, mereka bekerja apa saja yang penting halal.

    Leave a Reply

    Note: Comment untuk tulisan ini tidak diperkenankan format html

    footer